Startup Jepang Bikin Drone Murah dari Kardus • Dutaponsel

Startup merupakan salah satu topik yang dibahas dalam artikel ini. Berikut adalah informasi lengkap seputar startup yang perlu kamu ketahui.

Perang beberapa tahun terakhir pelan-pelan mengubah teknik militer melihat drone. Bukan lagi soal siapa yang punya teknologi paling mahal, tapi siapa yang bisa menyebar unit dalam jumlah masif melalui lekas. Dari sini mulai terlihat kalau drone murah bisa punya dampak yang tidak kalah masif.

Jepang ikut masuk ke tren ini lewat startup Air Kamuy yang memilih bahan tidak biasa, yaitu dari kardus. Dari situ lahir AirKamuy 150, drone fixed-wing yang konsepnya mengingatkan pada Shahed dari Iran dan Lucas dari Amerika Serikat yang usai lebih dulu digunakan di konflik nyata.

AirKamuy 150 mencoba menekan biaya sejauh mungkin tanpa benar-benar mengorbankan fungsi. Satu unitnya diperkirakan hanya sekitar 3.000 dolar, sementara Lucas dapat jauh lebih mahal. Di saat yang sama, performanya masih cukup masuk akal guna kebutuhan tertentu.

Yang langsung mencuri perhatian justru pendekatan produksinya. Drone ini dapat dirakit hanya dalam waktu sekitar lima menit tanpa fasilitas khusus. Selama ada bahan dan desainnya, produksinya dapat dilakukan menggunakan kilat di segudang tempat.

Desainnya pun dibuat praktis bagi kebutuhan lapangan. Bodinya sanggup dilipat rata sehingga lebih praktis dibawa dan disimpan. Dalam kondisi tertentu, efisiensi seperti ini sanggup begitu terasa dampaknya.

Sejauh ini Air Kamuy masih memposisikan produknya guna latihan dan penggunaan sipil. Contohnya guna pengiriman barang atau kebutuhan darurat. Namun ketertarikan dari kementerian pertahanan Jepang mulai memberi sinyal penggunaan yang lebih serius.

Guna misi sekali jalan, material mahal memang tidak terlalu dibutuhkan. Drone jenis ini memang dirancang guna habis pakai setelah digunakan. Dalam konteks itu, karton justru jadi pilihan yang masuk akal.

Tetap ada batasan yang tidak dapat dihindari. AirKamuy 150 hanya punya waktu terbang sekitar 80 menit sebab memanfaatkan tenaga listrik. Dibanding drone berbahan bakar, jangkauannya jelas lebih terbatas.

Di sisi lain, perkembangan AI mulai mengubah cara drone digunakan. Sekelompok drone sanggup bergerak bersama dalam pola swarm dengan koordinasi minim campur tangan manusia. Uji coba terbaru menunjukkan skenario seperti ini semakin realistis.

Kalau biaya produksi terus ditekan dan jumlah unit dapat ditingkatkan, tekanan ke sistem pertahanan udara kelak ikut berubah. Serangan dalam jumlah masif dapat jadi jauh lebih sulit ditangani. Menurut kalian, apakah inovasi drone kardus ini menarik, atau justru terdengar makin menyeramkan?

Sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *